Berbagai informasi, produk, download, mp3, software, games, website, domain, hosting, uang dan apapun di internet yang serba gratis
15 Kesalahan Dalam Branding oleh Herman Kwok (Semut Api Red)
Surabaya, 07 Oktober 2010 bertempat di Cafe Orenx, Jl. Arif Rahman Hakim Klampis Bapak yang satu ini memulai untuk membahas topik ini. Acara ini awalnya untuk memperkenalkan event yang akan di adakan Sparxup (http://www.sparxup.com ), rintik² air di luar tidak mengurangi keasyikan teman² SUWEC, Fresh Surabaya dan para entrepreneur serta calon entrepreneur lainnya. Suasana terlihat begitu nyaman, semua audiens memusatkan kelima panca inderanya ke arah layar proyektor besar di bagian depan.
Oia Tempat ini (Cafe Orenx) bisa dibilang sebagai tempat yang cukup cozy, strategis dan nyaman.Cafe dua lantai dengan ornamen Cat tembok warna oranye dan deretan kursi panjang (di deretan pinggir, seperti layaknya kursi yang ada di cafe² pada umumya) pun beberapa kursi kecil turut menambah suasana nyaman. Makanan dan minuman pun harganya bisa dibilang tidak terlalu mahal, untuk ukuran sebuah cafe yang terletak di jalan besar dan memberikan layanan gratis wi-fi bagi pengunjungnya. Agak sedikit berbeda memang dengan cafe di seberangnya-Coffee Corner (hehehe)
Kembali Ke masalah branding, sebelum membahas hal ini ada baiknya kita tahu mengenai apa itu branding. Branding, merupakan sebuah kata yang berasal dari kata dasar Brand yang berarti merk. Akan tetapi ketika kita mencari kata branding dalam kamus bahasa inggris kita tidak akan menemukan definisi yang sesuai.
Lalu bagaimana kita bisa memaknai kata branding? Sedangkan diluar sana begitu banyak istilah² dan pengertian yang bertebaran di jagat kata ini?. Mungkin sedikit review yang akan serbagratis bahas kali ini dapat sedikit membantu kita mengenai apa itu "branding" , review ini diperoleh dari hasil temu dengar (plus bermacam² pertanyaan tentunya) dengan Bapak Herman Kwok dari SemutApi , jangan keliru ma Mulan Kwoknya ex-RAtu ya.
Dalam Bukunya "15 Kesalahan Dalam Branding", Herman Kwok menjelaskan kenapa banyak orang kurang berhasil menjual produknya dan kesalah pahaman mengenai branding itu sendiri, buku yang 80% full komik ini bisa menjadi acuan bagi teman² yang ingin mendalami apa yang populer disebut "4P, STP dan SWOT" secara ringan dan asyik.
1. Branding = Marketing
Beberapa dari kita sering mengartikan demikian, branding yang diartikan sbagai pengenalan suatu produk adalah Marketing. hal ini kemudian akan menimbulkan pengertian bahwa jika kita ingin membranding kita harus mempunyai Marketing yang hebat, kuncinya dalah pemasaran-Itu saja. Rupanya hal ini salah besar karena apa gunanya punya seorang Marketer yang hebat tapi kita sendiri tidak mengerti mngnai barang kita?. Marketing yang hebat memang bisa membuat proses branding menjadi lebih mudah tetapi bukan berarti branding itu marketing, karena masih banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam "branding"
2. Branding = Mahal
Hal ini mungkin benar, tapi tidak sepenuhnya salah. ASumsi banyak orang branding itu harus menggunakan Spanduk, Iklan, Reklame, Baliho ato mungkin bermacam² acara yang membuat produk kita bisa dikenal pasar, tentunya hal ini akan menghabiskan biaya yang tidak kecil. Sebagai contohnya, untuk memperkenalkan "brand", kita mengadakan konser besar²an dengan puluhan artis ibukota dengan honor yang menjulang selangit. Tetapi apakah ini menjamin bahwa produk kita akan dikenal oleh masyarakat?
Padahal jelas² kita telah menggelontorkan dana yang tidak sedikit?. Branding itu Mahal memang karena yang benernya kita menghabiskan dana kita di sektor Customer insight, SWOT, teknologi pemasaran dan skill yang mendukung hingga nantinya membuat brand kita lebih tepat sasaran dan lebih efektif. Besar memang cost-nya tapi revenue yang diberikan bisa 2-3 kali lipatnya.
3. Brand = Logo
Tak bisa dipungkiri lagi logo memang menjadi salah satu cara untuk mengenalkan brand kita, memang dengan adanya logo proses penginderaan manusia akan semakin dimudahkan. Sebagai contoh-ambillah coffee starbucks, apa jadinya jika nantinya kita menuangkan kopi yang kita beli tadi ke dalam gelas kosong tanpa ada logo starbucksnya?. Masihkah kopi itu akan laku dijual seharga aslinya?.
Logo memang menjadi hal penting tapi bukan berarti jika kita ingin membranding kita hanya butuh logo, salah besar karena logo hanya akan membantu kita memvisualisasikan "jualan" kita ke konsumen. Masih ada lagi yang harus diperhatikan ketimbang cuma logo
4. Ekspansi Brand ke kategori yang berbeda
Buat yang satu ini saya kurang bisa menjelaskan karena mungkin gak terlalu paham, tapi secara garis besarnya mungkin gini. Misalkan saja ada sebuah minyak goreng dengan merek A, lha lalu bagaimana cara kita mengenalkannya?. Promosi besar²an, iklan dan lain² itu saja?.
Bagaimana kalo begini, seperti kita ketahui bersama pasar minyak goreng sudah cukup besar, jadi bagaimana kalo kita menspesialisasikan minyak "A" ke sebuah kategori yang baru, bukan berbeda tetapi sedikit lebih spesifik. Sebagai contohnya kita men-tagline bahwa minyak goreng "A" adalah minyak goreng terbaik untuk menggoreng ikan, ketimbang kita akan memulai bersaing dari awal dengan produk² yang sudah ada kenapa tidak mengkhususkan diri agar lebih mudah dikenal?
5. Branding = Advertising
Advertising memang merupakan salah satu cara untuk mem-branding tapi bukan cuman ini yang lantas menghasilkan brand. Ini cuman merupakan rangkaian dari proses branding itu sendiri.
6. Target Market = Semua Orang
Banyak para pelaku bisnis yang mungkin karena saking banyaknya layanan ato produk yang akan dijual jadi kebanyakan malah bingung jika harus menentukan target pasar, hal ini nantinya akan berlaku sebaliknya. Kita tidak bisa mentargetkan semua orang menjadi pasar kita_sebagai contoh kita lebih mengenal detik.com sebagai portal berita ketimbang layanan blog yang disediakan, begitu pula ketika menyebut kaskus, kapanlagi de el el.
Masing² dengan banyak layanan yang disediakan, tetapi tetap akan lebih dikenal karena ke-"khusus"-annya, forum untuk Kaskus dan Lifestyle untuk Kapanlagi-kita anggap saja layanan lainnya sebagai pelengkap. Kita harus mengerucutkan target pasar kita hingga nantinya kita benar² tahu produk ato layanan yang kita jual dan akan semakin memudahkan kita untuk melakukan evaluasi akan penjualan dan efektifitasnya.
7. Top Of Mind = Top Of Sales
Bukan berarti produk yang sudah dikenal masyarakat akan menduduki peringkat pertama dalam penjualan, belum tentu. Masih banyak faktor yang mempengaruhi, yang sampai saat ini masih banyak ditemui adalah produk "teh botol", awalnya sosro mengenalkan produknya cuman dengan nama "teh botol", hal ini awalnya untuk mengenalkan masyarakat bahwa ini loh ada teh yang sudah dibotolkan.
Ini tentunya sangat baik untuk penetrasi pasar, namun apa yang terjadi sekarang malah sebaliknya. Ketika kita makan misalnya dan ingin memesan minuman, kita lantas memesan teh botol, tapi apakah yang diberikan adalah teh botol sosro? tentunya tidak masalah ketika kemudian yang disodorkan tekita, ato sejenisnya?.
Inilah kenapa sekarang sosro menarik namanya kedalam produknya yang paling laris sampai saat ini "teh botol SoSro" mereposisi "teh botol" dengan men-tagline "Apapun makananya minumnya Teh Botol Sosro" .
8. Branding = Disain Packaging
Desain Packaging mungkin menjadi satu alasan kenapa kita kemudian tertarik membeli suatu produk, tapi apakah cuman itu saja?. Istilah "DOnt Judge Book by Its Cover" mungkin bisa menggambarkan ini, Apa ada jaminan bahwa produk dengan tampilan wah dan menawan akan benar² bagus secara kegunaan dan manfaatnya?, belum tentu.
Dan belum tentu juga produk yang kemasannya jelek akan memiliki kegunaan yang sebaliknya. Desain dan kemasan akan membuat produk kita lebih "eye catching" dan "sellable", tapi jangan melupakan faktor "usability"-nya. Meminjam istilah Axe-Kesan pertama begitu menggoda....
9. Brand Guideliness tidak jelas
Ini yang menjadi salah satu faktor penting, ketika kita membeli sebuah handphone misalnya. Sedikit dari kita yang benar² mengoptimalkan kegunaan handphone tersebut, boleh jadilah kita punya IPhone 4G yang baru namun apakah kita benar² sudah menggunakannya sesuai dengan fungsinya? ato cuman menggunakannya untuk prestise, foto²an dan internet-an saja?.
Padahal masih banyak fitur² dari IPhone yang lebih banyak lagi. Itulah gunanya Brand Guidelines, hal ini bukan hanya akan lebih mengenalkan produk kita tapi juga memudahkan konsumen dalam pemanfaatannya. Nantinya ini akan membuat produk kita lebih dicintai konsumen. Jadi Brand Guideline s yang jelas mutlak dibutuhkan dalam proses branding.
10. Tidak Punya Internal Branding
Pernah menjumpai kasus ini : "Sepulang kuliah Ali berjalan² di daerah "B", disana ia mendapati ada sebuah neon box besar di pinggir jalan dengan iklan layanan yang menggiurkan. Karuan saja ia tertarik dan langsung memutuskan untuk mencoba layanan tersebut, segera ia menelepon dan menanyakan tentan kebenaran layanan tersebut tetapi apa yang terjadi ketika ia menelepon contact person yang ada disitu?.
Jawaban yang diberikan adalah "Maaf bapak, kami sendiri kurang mengetahui akan adanya info tsb, Pertanyaan bapak ini akan kami tampung dan nantinya diteruskan ke pihak yang bertanggung jawab, terima kasih". Mungkin hal ini akan baik² saja jika Ali lalu tidak kecewa dan memutuskan untuk mencari layanan lain?. Internal Branding mutlak diperlukan, bukan hanya seorang sales yang tahu mengenai detil produk kita, tetapi semua elemen dalam usaha kita mutlak mendapatkan info yang sama.
11. Tidak ada diferensisai dan keunggulan
Ini salah satu hal fatal yang harus diperhatikan. Adanya diferensiasi dan keunggulan suatu produk merupakan hal mutlak dalam proses branding, selain memudahkan ini akan menjadi nilai tambah bagi produk kita. Bayangkan saja jika kita tidak punya keduanya?. Masih adakah alasan bagi konsumen untuk membeli produk kita?.
12. Branding tanpa Integritas
Integritas berasal dari bahasa Latin “ integrate “ yang artinya komplit. Kata lain dari komplit adalah tanpa cacat, sempurna, tanpa kedok. Maksudnya adalah apa yang ada di hati dan yang kita ucapkan, yang kita pikirkan dan yang kita lakukan adalah sama. Branding adalah proses yang membutuhkan banyak hal, integritas kita mutlak diperlukan dalam hal ini.
13. Terlambat mereposisi Brand
reposisi = penempatan kembali ke posisi semula; penataan kembali posisi yg ada; penempatan ke posisi yg berbeda atau baru adalah proses yang tidak bisa dipungkiri dalam branding, banyak alasan kenapa pertamina melakukan hal ini pada logo dan tagline-na, biaya yang dihabiskan pun tidak sedikit.
Kurang lebih sekitar 3 milyar untuk proses ini. Reposisi menjadi suatu keharusan bagi suatu proses menuju kebaikan, hal ini mungkin salah satu alasannya. Seperti yang kita ketahui ada kasus pada internal pertamina pada waktu itu, dan ketika kasus itu telah selesai ditangani pertamina ingin menunjukkan kembali kepada dunia bahwa semuanya telah selesai dan sekrang telah menjadi brand yang kembali bersih. Reposisi adalah caranya...
14. Branding hanya untuk B2C
Branding bukan hanya ditujukan untuk Business to Customer (B2C) tetapi juga ke semua aspek. Mulai dari bagian produksi sampai ke Marketing, alangkah indahnya ketika karyawan kita lebih paham dan mengenal produknya sendiri. Kita memiliki marketing Instant yang bisa turut mendukung proses branding kita, semua elemen usaha kita harus menjadi sama dalam hal branding.
Semangat branding kita harus dikenalkan ke semua jajaran mulai instansi teratas sampai terbawah.
15. Pesan Tidak Jelas dan Fokus
Yang terakhir ini merupakan nilai yang harus diperhatikan, lihat saja Nokia dengan Connecting People -nya, Yamaha dengan Semakin Di Depan, Samsung dengan Turns On Tommorrow -na. Pesan yang jelas akan memudahkan pengenalan dan pengkategorian produk kita.
Nah Sudah jelas kan?, mungkin ini cuman sedikit dari banyak penjelasan Bapak Herman Kwok, bagi teman² yang ingin lebih jelas bisa membeli bukunya di Toko Buku terdekat.
Menurut saya pribadi branding adalah sebuah pencitraan suatu produk yang tidak hanya dilihat secara visual tetapi juga dari segi isi, pesan dan mutu. Branding tidak hanya melibatkan marketing tetapi juga semua elemen yang berkecimpung di dalamnya. Semuanya menjadi bagian proses branding. Logo dan Target Pasar bisa jadi memudahkan proses ini, tetapi faktor lain harus ikut di pertimbangkan.
Seperti halnya manusia yang setiap waktu akan terus tumbuh dan berkembang, yang nantinya membutuhkan maintaing dan evaluating untuk menjadi lebih baik. Suatu produk nantinya akan mengalami reposisi, rebranding, redefinisi, ato bahkan redesigning.
Hal inilah nantinya yang akan membuat suatu produk menjadi tak hanya "Top Of Mind" tetapi juga "Top Of Sales ".
Terima kasih telah membaca sedikit ulasan dari saya mengenai gathering Suwec, Fresh Surabaya dan wakil dari Sparx Up bapak Herman Kwok. Sampai jumpa di review selanjutnya...
10 Oct 2010 (03:13)
ijin menyimak, postingan mantap
Tulis komentar
* = harus diisi